Kisah Soeharto Kecil Yang Bikin Haru


lSoeharto kecil berasal dari keluarga tak mampu yang tinggal di desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, sebelah barat Kota Yogyakarta. Sejak kecil ia telah mengalami kehidupan yang serba pahit hingga akhrinya berhasil menapaki anak tangga menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Ketika berumur empat tahun, ia tinggal bersama ibunya Sukirah dan ayah tirinya Atmopawiro. Di masa-masa itu, Soeharto mulai merasakan pahitnya hidup. Dia bercerita saat itu kondisi ekonomi keluarganya tidak begitu baik sehingga ia hanya mengenakan celana hitam selutut tanpa baju.

Bahkan ketika kakek buyutnya dari keluarga ibu, Mbah Notosudiro memanggilnya dan menyuruhnya memakai sorjan (kemeja jawa) buatan sendiri, ternyata baju tersebut bukan untuk Soeharto. Melainkan untuk kakaknya Darsono. Tentu hal ini sangat menyedihkan dan menyakiti hati Soeharto kecil.

Namun saat beranjak dewasa, ayah kandung Soeharto, Kertosudiro yang merasa khawatir dengan masa depan anaknya, akhirnya menitipkan Soeharto pada keluarga Prawirowiharjo (suami dari adik Kertosudiro) di Wuryantoro. Saat menitipkan Soeharto, Kertosudiro berpesan kepada adiknya agar Soeharto dibimbing dan diberi pendidikan yang baik.

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di Wuryoantoro selama lima tahun, ia kemudian pindah ke Wonogiri, Jawa Tengah untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah tingkat menengah. Di sanalah ia tinggal bersama Hardjowijono, teman ayahnya yang merupakan pensiunan pegawai kereta api.

Di sana ia belajar ilmu pengobatan tradisional dari Kiai Darjatmo, pemuka agama yang pandai menyembuhkan berbagai penyakit. Soeharto muda sering diajak mengunjungi Kiai Darjatmo dan membantunya membuat resep obat tradisional. Tentu saja Soeharto sangat senang bisa belajar banyak dari Kiai Darjatmo.

Namun kegembiraan Soeharto tidak berlangsung lama. Soeharto muda yang ingin masuk ke sekolah menengah itu pun harus gagal. Hal itu dikarenakan peraturan sekolah tersebut mengharuskan siswa mengenakan celana dan sepatu.

Sebegitu miskin keluarga Soeharto, sampai kedua orangtuanya pun tidak mampu membelikannya sepasang sepatu untuk bersekolah. Oleh sebab itu, akhirnya ia harus kembali ke Kemusuk dengan berat hati.

Setelah pindah lagi ke kediaman ibunya, Soeharto bersekolah di Muhammadiyah di Kota Yogyakarta. Agaknya peraturan sekolah ini tidak seketat yang ada di Wonogiri. Soeharto bisa pergi ke sekolah hanya dengan mengenakan kain atau sarung namun tetap tanpa sepatu.

(sumber: Biografi Daripada Soeharto: Dari Kemusuk Hingga 'Kudeta Comdessus', tahun 2012)

(oto)

Tidak ada komentar