Bekerja Tanpa Digaji, Ginjal TKI Ini Dicuri, Diganti dengan Selang Berisi Batu




Sungguh malang nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI), asal Lombok ini. Namanya Sri Rabitah. Ia harus kehilangan salah satu ginjalnya, usai bekerja di Qatar.

Sri pergi mengadu nasib ke Timur Tengah tahun 2014 silam. Sebelum berangkat, ia telah memeriksakan kesehatan, dan dinyatakan sehat.

Bersama 22 orang lainnya, warga Dusun Lokok Ara, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, NTB, itu  lalu diberangkatkan menuju Qatar tahun 2014 melalui BLK-LN Falah Rima Hudaity Bersaudara.

Sampai di Qatar, ia langsung bekerja di tempat majikannya yang bernama Madam Gada. Selama bekerja di sana, Sri mengaku diperlakukan tidak manusiawi. Ia bekerja nonstop mulai pukul 05.00 pagi hingga 03.00 dini hari.

Seminggu bekerja di rumah majikannya tersebut, Sri lalu dipindahkan ke rumah orangtua Madam Gada yang saat itu tengah sakit.

Ia pun menurut saat tiba-tiba diajak majikannya untuk memeriksakan kesehatan. Di rumah sakit, Sri melakukan cek darah dan diinfus. Ia sempat protes karena saat itu Sri merasa dirinya sehat.

Oleh petugas, Sri lalu dibawa ke sebuah ruangan yang mirip ruang operasi. Di sana dia disuntik dan tidak sadarkan diri.

Lima jam tak sadar, Sri lalu siuman dan mendapati dirinya sudah berada di atas tempat tidur. Ia kaget karena banyak selang infus yang menempel di badannya.

"Saya bergerak terasa sakit, saya rasain di perut sebelah kanan. Ada rasanya seperti bekas dijahit. Saya lihat kantung jalan kencing penuh dengan darah. Terus dimasukin ruangan ada teropong besar, setelah dimasukin hilang bekas jahitannya," kata Sri saat ditemui di rumahnya, Minggu (26/2/2017).

Sehari di rumah sakit, Sri langsung dipulangkan ke kantor agen di Qatar. Sejak itulah Sri menjadi sering sakit-sakitan. Ia kerap mengalami batuk darah, kencing darah dan keluar darah dari hidung.

Tidak sampai di situ, selama berada di agen, Sri mengaku kerap mendapatkan siksaan. Ia sering dipukul menggunakan balok karena dianggap berpura-pura sakit.

Sri akhirnya dipulangkan ke Indonesia tanpa bayaran sepeser pun. Tiga tahun berselang, sakit yang diderita Sri tak kunjung sembuh. Ia kerap merasakan sakit pada bagian perut dan tidak bisa bekerja berat.

"Sakitnya sakit sekali seperti ditusuk-tusuk pisau. Kalau duduk saya nggak tahan, kerja nggak bisa. Kalau saya kerja batuk darah, kencing darah. Udah berapa kali keluar masuk rumah sakit tetapi nggak ada reaksi," kata Sri.

Sri lalu dibawa oleh suaminya ke rumah sakit untuk melakukan rontgen. Sri baru mengetahui bahwa ia kehilangan salah satu ginjalnya saat melakukan rontgen pada 21 Februari 2017. Saat itu, dokter bertanya apakah Sri pernah menjual satu ginjalnya.

"Saya berani sumpah, saya nggak pernah menjual ginjal. Saya nggak tahu kalau ginjal saya nggak ada di sini satu," terang Sri.

Dokter mengatakan bahwa Sri hanya memiliki satu ginjal. Ginjal sebelah kanan Sri tidak tampak dalam foto rontgen. Dokter juga mengatakan ada selang berisi batu yang melingkar di dalam perut Sri.

"Terus ini selang sudah sejak berapa lama ada di dalam tubuh? Saya pun nggak tahu. Selang ini ada di dalam tubuh sekitar tiga tahun kata dokter. Semua selang ini berisi batu," kata Sri menirukan.

"Isinya batu, penuh dengan batu jadi perlu dibuka selangnya. Katanya kalau tidak dibuka, batu yang sebesar ini akan menambah besarnya dari selang ini. Jadi saya disuruh kurangi makan," kata Sri melanjutkan.

"Kalau dia minta ke saya, mungkin saya ikhlaskan. Akan tetapi, ini diambil tanpa sepengetahuan saya. Operasi itu dijalani tanpa izin dari orangtua. Tanpa ada tanda tangan dari saya juga," kata Sri.

Didampingi keluarga, perangkat desa, dan Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran wilayah NTB, Sri datang ke Kantor Bupati Lombok Utara untuk mengadukan nasibnya.

"Niat saya datang ke sini, saya minta bantuan dari bapak untuk menuntut orang itu karena saya tidak ikhlas dunia akhirat ginjal saya diambil secara diam-diam," kata Sri Rabitah saat bertemu Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar, Senin (27/2/2017).

Saat ini, Sri tengah menunggu jadwal operasi yang rencananya akan dilakukan 2 Maret 2017 mendatang di RSUP NTB.

Meski kehilangan satu ginjal, ia berharap dapat pulih kembali agar dapat mengurus anak perempuannya yang saat ini baru berusia empat bulan. (tribun)

Tidak ada komentar