Belanda-Turki Memanas!


[caption id="attachment_12515" align="aligncenter" width="870"] .[/caption]

 

Dua negara Eropa berseteru. Ketegangan itu berawal dari penolakan pemerintah Belanda terhadap Menteri urusan keluarga dan sosial Turki, Fatma Betul Sayan Kaya yang ingin berkampanye di hadapan warga Turki di Belanda.

Kampanye Fatma bertujuan untuk mendapatkan dukungan dari warga Turki di Belanda.

Ini terkait referendum Turki pada 16 April mendatang, serta penguatan posisi Presiden Erdogan di Turki.

Diketahui, sekitar 400 ribu warga Turki menetap di Belanda, sehingga dukungan warga Turki di Belanda pun dianggap sangat penting dalam referendum tersebut.

Namun dengan alasan keamanan, pemerintah Belanda menolak memberikan izin kepada menteri Turki untuk memasuki kantor konsulat Turki di Rotterdam.

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte meminta Turki untuk menghentikan kampanye kelilingnya itu karena dikhawatirkan dapat mengganggu keamanan dan ketertiban umum.

Warga Turki di Belanda pun marah dan melakukan unjuk rasa di depan konsulat Turki di Rotterdam.

Fatma Betul Sayan Kaya yang berusaha menemui para pengunjuk rasa akhirnya dikawal oleh polisi Belanda menuju ke perbatasan Jerman.

Turki membalas perbuatan Belanda tersebut dengan ucapan yang cukup menohok.

“Mereka sangat gugup dan pengecut. Mereka adalah sisa-sisa Nazi, mereka adalah kaum Fasis,” ucap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, seperti dikutip Telegraph.

Tak hanya Fatma yang ditolak, Belanda juga menolak hadirnya Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu untuk mendarat di Rotterdam pada Sabtu (11/3/2017). Hal ini semakin meningkatkan tensi kedua negara.

Ketegangan kedua negara yang kian meningkat, membuat kantor perwakilan Belanda di Turki pun harus ditutup dengan alasan keamanan.

Sedangkan Turki menyerukan untuk melakukan embargo ekonomi terhadap Belanda sebagai sikap tegas tentang “pelecehan” yang dilakukan Belanda terhadap para menteri Turki.

Belanda dan Turki sebelumnya memiliki hubungan cukup dekat, yang sudah terjalin sejak tahun 1612.

Saat itu, utusan Belanda Cornelis Haga terlebih dahulu mengunjungi Istanbul pada 1612, dan menandai dimulainya hubungan kedua negara.

Dilanjutkan kembali pada tahun 1923, Belanda dan Turki menandatangani perjanjian persahabatan kedua negara.

Kedua negara memiliki hubungan baik terbukti dengan perdagangan antara Belanda dan Turki mengalami peningkatan tiga kali lipat selama 10 tahun terakhir, dan Belanda merupakan salah satu investor utama Turki. Banyak perusahaan Belanda yang memiliki cabang di Turki: bisnis makanan, energi, dan teknologi.

Hubungan kedua negara juga dihiasi dengan banyaknya kunjungan timbal balik yang dilakukan politisi dan pejabat tinggi kedua negara. Pada 2012, Presiden Presiden Turki yang saat itu dijabat oleh Abdullah Gül mengadakan kunjungan kenegaraan ke Belanda dan Ratu Beatrix mengunjungi Turki.

Pada 2012, Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertanian Turki melakukan kunjungan ke Belanda.

Di tahun yang sama, kedua negara juga merayakan 400 tahun hubungan Belanda-Turki.

Kini di tahun 2017, dengan penolakan terhadap kedatangan dua menteri Turki ke Belanda itu pun menimbulkan tanda tanya. (tbn)

Tidak ada komentar