Hari Perempuan Internasional, Wanita AS Tak Kerja dan Demo Trump


Wanita Amerika Serikat (AS) merayakan Hari Perempuan Internasional dengan tidak masuk kerja sebagai bagian dari aksi 'Sehari Tanpa Wanita'. Aksi itu menjadi bagian dari unjuk rasa besar-besaran memprotes Presiden Donald Trump, yang akan kembali digelar secara nasional.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (8/3/2017), kampanye 'Sehari Tanpa Wanita' atau 'A Day Without a Woman' dimaksudkan bagi para wanita dan perempuan di AS yang bisa tidak masuk kerja atau tidak masuk kuliah atau sekolah pada 8 Maret waktu setempat, sebagai bentuk protes. Aksi serupa pernah dilakukan para imigran di AS pada 16 Februari lalu untuk memprotes kebijakan imigrasi Trump yang kontroversial.

Tujuan dari kampanye 'Sehari Tanpa Wanita' di AS ini antara lain untuk menarik perhatian pada kesenjangan upah antara pria dan wanita di AS dan juga memperjuangkan hak-hak reproduksi bagi kaum wanita.

"Selama bertahun-tahun, 8 Maret telah menjadi Hari Perempuan Internasional dan telah menjadi hari yang sangat, sangat membahagiakan, yang tentu sangat baik. Namun iklim politik yang kita rasakan sekarang, memerlukan kita untuk ikut terlibat," terang Presiden Organisasi Perempuan Nasional AS, Terry O'Neill.

Unjuk rasa anti-Trump kali ini, sebut O'Neill, akan menargetkan perintah eksekutif Trump soal larangan aborsi. Perintah itu melarang setiap penyedia layanan kesehatan asing untuk menerima dana dari AS jika mempromosikan aborsi.

Isu lainnya, lanjut O'Neill, adalah soal kesenjangan upah dengan kaum wanita hanya meraup US$ 79 sen jika kaum pria mendapat US$ 1. Tidak hanya itu, wanita keturunan Afrika-Amerika dan juga wanita Latin bahkan mendapat upah lebih kecil. Sejak tahun 2009, upah minimum di AS pada level federal mencapai US$ 7,25. Meskipun untuk beberapa negara bagian, besaran upah minimum sedikit lebih tinggi dari itu.

Kaum wanita menyumbang 47 persen angka tenaga kerja di AS. Jika semuanya memutuskan libur kerja pada 8 Maret, diperkirakan organisasi Center for American Progress, maka setidaknya akan berpengaruh pada produk domestik bruto (PDB) AS sebesar US$ 21 miliar.

Di sisi lain, penyelenggara unjuk rasa menyadari banyak wanita di AS yang tidak termotivasi atau tidak mampu untuk libur sehari dari pekerjaan mereka karena kebutuhan finansial. Opsi lain untuk menunjukkan solidaritas dalam Hari Perempuan Internasional, menurut penyelenggara, adalah dengan membatasi belanja mereka di pusat bisnis yang dimiliki kaum wanita atau sekedar mengenakan pakaian warna merah untuk menunjukkan solidaritas.

Unjuk rasa anti-Trump kali ini akan digelar di beberapa kota besar seperti Washington DC, New York, Atlanta, St Petersburg, Florida, Chicago, San Fracisco dan Berkeley, California. Beberapa sekolah di Virginia dan North Carolina meliburkan kegiatan belajar-mengajar karena banyak guru wanita yang minta libur pada 8 Maret. (dc)

Tidak ada komentar