Istri Kejar Karier, Suami Kejar Ponakan, Masuk Itu Barang!


JIKA iman kalah sama si “imin”, beginilah jadinya. Dasman, 53, yang sudah berusia kepala lima, kok tega-teganya menodai ponakan sendiri, Ninuk, 24. Tapi ini semua bisa terjadi, karena istri, Wahyuni, 49, terlalu sibuk mengejar karier. Akibatnya, ketika suami haus di rumah, minuman bukan miliknya ditenggak juga.

Memang banyak kejadian sebagaimana di atas, paman makan ponakan. Ponakan sendiri dibuat penak-penakan. Apakah saat berbuat si paman tak ingat bahwa yang digauli adalah anak kakak kandung sendiri? Tapi karena setan begitu kuat menggoda, hal itu tak jadi pertimbangan lagi. Ponakan kan hanya status, yang penting sebagaimana kata almarhum Sutan Bhatugana, masuk itu barang!

Dasman – Wahyuni membina rumahtangga sejak 20 tahun lalu. Awalnya mereka berkarier di Surabaya. Perjalanan nasib menuntunnya suami istri itu harus bekerja di Jakarta. Suami bekerja di perusahaan kontraktor, dan istri menjadi konsultan Public Relation. Dari kerjasama nirlaba ini telah lahir tiga anak dan telah memiliki rumah sendiri di bilangan Rawamangun, Jaktim.

Rumahtangga yang tata tetrem slamet rahardjo ini mendadak bergejolak ketika hadir orang ketiga dalam rumahtangga itu. Dia adalah Ninuk, ponakan Dasman yang datang dari Kediri. Selama belum punya rumah sendiri, dia tinggal di rumah paman. Itu hal yang lumrah pada setiap keluarga perantau. Siapa yang sudah mapan, wajib menjadi tumpangan keluarga pendatang baru.

Sebetulnya banyak rumahtangga seperti. Tapi Dasman ini menjadi lain, karena dia memang punya kelainan. Maksudnya, dia tidak punya iman, karena “si imin” lebih dominan. Dia bisa tertarik pada ponakan sendiri, gara-gara istri terlalu sibuk berkarier. Manakala dia kepengin, istri tak di rumah. Di rumah pun selalu beralasan capek dan ngantuk. Bagaimana Dasman tidak pusing, karena senapan dua belas komah tujuh sudah kadung dikokang.

Dalam kondisi begitu, tiba-tiba setan menghampiri dan mengompori. Memangnya perempuan hanya istri? Untuk mencari medan kepuasan masih banyak jalan lain ke Roma. PM Israel saja, mau ke Autralia tak harus lewat wilayah udara RI, bisa mlipir di atas Filiphina, belok kanan di atas Papua Nugeni, baru ke Darwin. “Di rumahmu kan ada ponakan, si Ninuk. Dia bisa kamu coblos tanpa harus membawa surat model C-6.” Kata setan membujuk.

Ternyata masukan setan itu diterima tanpa reserve. Mulailah dia mencoba merayu-rayu Ninuk. Karena setan menjadi pendukung mayoritas, hanya dengan satu putaran Ninuk bisa ditaklukkan. Sejak itu manakala situasi aman terkendali, Ninuk melayani Dasman sang paman bak suami sendiri. Edan tenan, ponakan dibuat penak-penakan.

Belum lama ini aksi mesum itu kepergok Wahyuni. Dia curiga kok malam-malam suami masuk ke kamar Ninuk. Begitu diintip lewat lobang kunci, eh…..Dasman – Ninuk sedang “pemanasan” dalam rangka coblosan non Pilkada Serentak. Langsung saja pintu didobrak. Ninuk diusir dari rumah, dan Wahyuni menuntut cerai. Wahyuni sudah menganggap Jakarta itu kota panas, sehingga pilih pulang ke Surabaya bersama anak-anaknya. Di sana pula dia menggugat cerai lewat Pengadilan Agama Surabaya.

Ada sengketa coblosan kok nggak digugat ke MK sih? (JPNN/Gunarso TS)

Tidak ada komentar