Kunjungan Raja Salman: Enaknya Dinikmati China Sementara Indonesia Dapat Hebohnya Saja


Kedatangan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud ke China membuahkan kerjasama investasi gede-gedean. Saudi bakal jor-joran berinvestasi di Negeri Tirai Bambu itu. Total kerja sama yang diteken di berbagai sektor terutama perminyakan mencapai 65 miliar dolar AS atau setara Rp 865 triliun. Sangat jomplang dengan total investasi Saudi di Indonesia yang hanya 6 miliar dolar AS atau setara Rp 86 triliun. Apalagi kedatangan Raja Salman ke Tanah Air disambut euforia. Sepertinya Indonesia menang hebohnya saja, sementara enaknya dinikmati China.

Dikutip dari Reuters oleh Rmol, penandatanganan kerja sama itu dilakukan di Beijing, Kamis waktu setempat. Raja Salman dan Presiden China Xi Jinping menyaksikan penandatanganan puluhan kerja sama yang diteken kedua belah pihak. Wakil Menteri Luar Negeri China Zhang Ming mengatakan, perjanjian itu mencakup investasi energi, antariksa properti dan lain-lain. Dari sumber lain disebutkan total ada 22 kesepahaman yang ditandatangani kedua negara untuk melihat peluang investasi. Beberapa di antaranya kerja sama perusahaan pelat merahnya Saudi Aramco dengan China North Industries Group Corp. Untuk peluang kilang minyak.

Saudi Aramco dikenal sudah menjadi mitra dalam kilang dan pabrik petrokimia dalam negeri.

Sementara, perusahaan China yang dikenal sebagai Norinco, memproduksi senjata dan mesin tapi juga memiliki unit penyulingan.

Perusahaan China akan melihat investasi 2 miliar dolar AS di sebuah pabrik petrokimia Jazan, di barat daya Arab Saudi. Perusahaan akan memasok energi surya, membangun bisnis e-commerce dan investasi sebuah taman bermain di Timur Tengah.

Seorang pejabat China Yao Kuang yi mengatakan, tak kaget dengan komitmen kerja sama tersebut. Arab Saudi perlu pasar baru dan mitra ekonomi untuk membantu negara bertransformasi ekonom dari ketergantungannya pada minyak. “Dan China merupakan target sempurna,” kata Kuangyingyi dilansir Bloomberg. Meski menurut dia tidak ada perjanjian resmi yang telah tercapai. Setelah acara penandatanganan yang digelar di Great Hall of the People Beijing, Jinping mengatakan, kunjungan itu upaya mengembangkan hubungan kedua negara. “Hasilnya telah melampaui harapan kami,” katanya mengomentari kesepakatan yang dicapai.

Jinping menambahkan, kunjungan Raja Salman ini menunjukkan nilai penting dalam hubungan dengan China. “Kunjungan ini akan mendorong dan terus meningkatkan kualitas hubungan kita dan memberikan manfaat baru,” ujarnya.

Kunjungan Raja Salman ke China, memang dalam rangka melakukan reformasi ekonomi yang ambisius sejak naik tahta dua tahun lalu. Kunjungan itu untuk mempromosikan peluang investasi di kerajaan, termasuk penjualan saham raksasa minyaknya, Saudi Aramco. Saudi telah mencari cara untuk mendongkrak penjualan minyak ke China, pasar minyak terbesar kedua di dunia, setelah kalah dalam mendapatkan pangsa pasar dari Rusia tahun lalu.

Pengamat hubungan internasional dari Unpad DR Teuku Rezasyah mengatakan, Raja Salman bukanlah pemimpin Arab Saudi pertama yang mengunjungi China. Sebelumnya, Januari 2006, Raja Abdullah sudah terlebih dahulu mengunjungi China. Dia diterima Presiden China Hu Jintao. Kunjungan itu merupakan kunjungan balasan Raja Abdullah yang sebelumnya dikunjungi oleh Presiden China Jiang Zemim guna menandatangani kesepakatan Strategic Oil Cooperation pada tahun 1999. Dalam kunjungan balasan Raja Abdullah, dihasilkan lima perjanjian besar pada kerja sama energi.

Menurut Reza, hubungan yang intens antara Saudi dan China menegaskan uang itu tidak berpaspor. “Artinya, mereka tidak melihat agama atau ideologi sebuah negara tapi murni hubungan ekonomi politik. Saudi akan investasi kepada negara yang sudah siap dan kira-kira bisa menguntungkan,” kata Reza kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Pengamat ekonomi Josua Pardede, menilai langkah Arab Saudi sangat wajar dan rasional, karena China sekarang adalah ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Prospek China mas ih tetap menjanjikan meski sekarang perekonomiannya melambat. Tak lama lagi China akan menjadi lokomotif ekonomi dunia. “Ini murni bisnis, saling menguntungkan,” kata Josua.

(pkn)

Tidak ada komentar