Mari Belajar Hidup Rukun dari Umat Islam-Kristiani di Daerah Ini


[caption id="attachment_12945" align="aligncenter" width="658"] Ilustrasi hidup rukun beragama[/caption]

Senja mulai menyapa namun langit Bekasi masih enggan mengubah warnanya menjadi jingga. Langit masih cerah sementara angin berhembus menerbangkan debu jalanan. Ahad (26/3) sore, lima anak perempuan sedang menyebrang jalan menuju Masjid Jami Baiturrahmah Kampung Sawah, Pondok Melati, Bekasi. Kelima anak perempuan itu mengenakan mukena sambil membawa Alquran di tangan kanan mereka. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri menunggu jalan sepi dan aman kemudian mulai menyebrang.

Dari dalam masjid, lantunan ayat suci Alquran sayup terdengar. Tujuh anak perempuan dan 10 anak laki-laki terlihat duduk sambil mengenggam Alquran. Seorang pria memimpin anak-anak itu melantunkan Surah Arrahman. Berbalut gamis putih dan jas hitam, ia duduk di depan belasan anak tersebut. Pria itu adalah Pemimpin Yayasan Islam Fi Sabilillah, KH Rahmadin Afif.

Saban sore menjelang Shalat Magrib, santri dan santriwati Yayasan Islam Fi Sabilillah (YASFI) Kampung Sawah, memang terbiasa mengaji bersama di Masjid Jami Baiturrahmah. Ada yang hanya mengaji. Ada pula yang menghafal Alquran.

Sementara Gereja Kristen Protestan yang terletak di sebelah masjid juga tampak sibuk. Dentingan lonceng berbunyi dari gedung beratap segitiga dengan tanda salib itu. Terlihat sekitar 15 wanita dengan kebaya berwarna-warni, sambil mendekap Injil di dada mereka. Sepuluh pria menyusul di belakang mereka dan bersama-sama memasuki halaman gereja. Kesepuluh pria itu mengenakan baju koko putih dengan sarung yang tersampir di pundak. Mereka mengenakan peci berwarna hitam dengan sebuah pin berbentuk salib menempel di ujung kanan atas peci.

Masjid Jami Baiturrahmah dan Gereja Kristen Protestan memang terletak bersebelahan. Suara azan dari masjid, disusul dengan dentingan lonceng dari gereja sudah tidak asing bagi warga Kampung Sawah, Bekasi. Di saat maraknya aksi penolakan berdirinya gereja oleh ormas-ormas Islam, Kampung Sawah hadir sebagai panutan dalam menerapkan kehidupan saling menghormati antaragama.

Kiai Rahmadin Afif mengatakan, toleransi antar umat beragama di Kampung Sawah memang sudah mengakar sejak dulu. "Karena masih satu keturunan, bahasanya sama, dan memang kebanyakan penduduk asli, jadi kita saling menghormati dan menghargai saja," ujar Rahmadin, Ahad (26/3).

Rahmadin mengatakan, warga Kampung Sawah sangat menjunjung nilai persaudaraan. Meskipun memiliki perbedaan keyakinan, perselisihan yang berujung tindak anarkis, tidak pernah terjadi antara umat Muslim dan Nasrani Kampung Sawah.

Secara historis, umat Islam dan kristen di Kampung Sawah berasal dari satu rumpun. Maka tidak aneh jika hubungan kekeluargaan sangat terlihat akrab karena terikat tali persaudaraan. Bahkan ada dalam satu keluarga terdapat beberapa penganut agama. Suasana demikian juga didukung letak desa yang cukup terpencil, sehingga satu sama lain saling membutuhkan dan saling membantu apabila memperoleh kesusahan.

Kiai Rahmadin mengakui, toleransi antarumat beragama telah mengakar kuat di Kampung Sawah, karena setiap orang terikat identitas yang sama, yakni penduduk Kampung Sawah. “Karena masih satu keturunan, bahasanya sama dan penduduk asli, jadi kita tidak ada masalah. Saling menghormati dan menghargai,” ucap Rahmadin.

Wakil Ketua Dewan Gereja Kristen Protestan Kampung Sawah, Matheus Nalih Ungin mengatakan, hubungan antarsesama warga Kampung Sawah memang saling menghormati dan tidak membeda-bedakan suku, ras dan agama. "Kalau hari-hari besar, biasanya warga yang Muslim atau yang Kristen saling ngirim rantang, sambil silaturahim ke rumah sodara," ujar Nalih.

Dewan Bagian Pendidikan YASFI, Nur Ali Akbar juga mengatakan, warga Kampung Sawah saling menjaga keamanan dan ketertiban saat penganut agama lain sedang beribadah atau merayakan hari raya. Tak jarang, lapangan parkir Masjid Baiturrahmah penuh ketika Ahad pagi, atau lapangan parkir Gereja Kristen Protestan terlihat penuh ketika Jumat siang. "Itu berjalan alami aja, tanpa dikomandoi," ujar Nur.

Tradisi seperti sedekah, silaturahim dan berbagi makanan bukan hanya dilakukan oleh warga muslim, melainkan seluruh warga Kampung Sawah. Camat Pondok Melati, Muhammad Encep mengatakan, adat atau kebiasaan seperti itu membuat kekerabatan warga Kampung Sawah menjadi luas dan kuat, meskipun agama mereka berbeda-beda. "Ini adalah salah satu modal terjaganya kerukunan beragama di antara kami," ujar Encep.

Kampung Sawah terletak di Kecamatan Pondok Melati dan terbagi menjadi dua kelurahan, yaitu Kelurahan Jati Melati Dan Jati Murni. Kecamatan Pondok Melati dengan luas wilayah 1.179.925 hektar, yang terdiri dari empat kelurahan yaitu Kelurahan Jatimurni seluas 300,5 ribu hektar, Kelurahan Jatimelati seluas 319 ribu hektar, Kelurahan Jatiwarna seluas 248 ribu hektar, dan Kelurahan Jatirahayu seluas 312,425 hektar. Jumlah penduduk Kampung Sawah berdasarkan agama yang diyakini, yaitu Muslim sekitar 43.314 orang, Kristen 9.736 orang, Budha 274 orang dan Hindu 164 orang. Tercatat, Kampung Sawah memiliki 21 masjid dan sembilan gereja. (rol)

Tidak ada komentar