Serangan Mematikan Itu Sampai Juga ke Telinga PBB


[caption id="attachment_12069" align="alignleft" width="500"] Sebuah pertempuran pejuang bersama TNI melawan pendudukan belanda pasca Agresi Militer Belanda II terjadi di halaman Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Minggu (01/03/2015).[/caption]

Perjuangan bangsa Indonesia tak lepas dari peran stasiun Radio PHB AURI PC-2 yang berada di Playen.

Melalui stasiun radio AURI itu, kedahsyatan Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dikenal dengan “Enam Jam di Yogya” sampai ke perwakilan RI di New Delhi dan diterima PBB.

Hasilnya Yogyakarta diserahkan kembali kepada Pemerintah RI. Pada tanggal 17 Desember 1945, Panglima Divisi III Yogyakarta secara resmi menyerahkan wewenang dan tanggung jawab bidang keudaraan kepada TKR Jawatan Penerbangan.

Sejak itu pula kegiatan dalam menghimpun kekuatan udara mulai meningkat. Urusan komunikasi dan personel dipercayakan kepada Sabar Wiryonomukti yang kemudian ia menghimpun teman-temannya yang berpengalaman di bidang radio komunikasi.

Di antaranya terdapat nama Opsir Udara III Boedihardjo yang diberi tugas menyiapkan sumber daya manusia, khususnya untuk Dinas Perhubungan atau PHB-AURI. Boedihardjo kemudian mengajak 16 siswa Sekolah Radio Telegrafis dari Bugis Malang, untuk dijadikan tenaga inti PHB-AURI.

Dengan datangnya Adi Soemarmo Wirjokoesoemo, mantan Flight Radio Operator dari The Netherland East Indies Air Force (NIA), kinerja dan eksistensi PHB-AURI menjadi semakin baik.

Dua tahun kemudian, Opsir Udara III Boediardjo diangkat menjadi Kepala Jawatan Perhubungan AURI. PERESMIAN MONUMEN 2, Sri Sultan Hamengkubuwono IX (tengah), Paku Alam VIII (kanan), dan Soekirman (salah satu anggota PHB AURI) pada saat peresmian monumen Stasiun Radio AU PC-2 di Kecamatan Playen pada 10 Juli 1984.

Pada saat penyerbuan Belanda ke Yogyakarta, 19 Desember 1948, untuk menduduki ibukota negara serta menangkap pemimpin bangsa, Wakil Presiden Mohammad Hatta pernah mengirimkan sebuah pesan berbentuk radiogram.

Pesan tersebut kemudian disampaikan Sabar Wijoyomukti ke seluruh stasiun radio AURI yang ada di Indonesia, melalui stasiun radio AURI yang berada di Terban Taman Yogyakarta. Bunyi pesan tersebut adalah : “PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DI YOGYA DIKEPUNG MUSUH DAN TIDAK DAPAT MELAKUKAN TUGAS KEWAJIBANNYA (KOMA) TETAPI PERSIAPAN TELAH DIADAKAN UNTUK MENERUSKAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DI SUMATERA (TTK) APAPUN YANG TERJADI DENGAN ORANG-ORANG PEMERINTAH YANG ADA DI YOGYAKARTA (KOMA) PERJUANGAN DITERUSKAN (TTK HBS)”.

Salah satu Radio PHB AURI yang dipakai untuk mengirim berita pada masa perjuangan kemerdekaan tahun 1948/1949 di Yogyakarta. Selesai pengiriman berita tersebut, untuk menghilangkan jejak dan melindungi para pejuang dari serbuan Belanda, stasiun radio perhubungan AURI yang berada di Terban Taman Yogyakarta tersebut kemudian dihancurkan Opsir Udara III Boediardjo.

Para pejuang kemudian kembali bergerak ke luar kota menghimpun kekuatan untuk bergerilya melanjutkan perjuangan. Di Desa Dekso, Kulonprogo, tempat para pejabat militer berkumpul dan berkoordinasi, didirikan Markas Besar Komando Djawa pimpinan Nasution, yang kemudian dikenal dengan sebutan MBKD.

Setelah bergabung dalam MBKD, Opsir Udara III Boediardjo yang saat itu menjabat sebagai Kepala Perhubungan AURI berusaha meyakinkan Pimpinan MBKD, bahwa ia dapat melakukan hubungan komunikasi dengan Markas Besar Komando Sumatera dan markas komando lainnya.

Pada waktu itu AURI memiliki sekitar 39 stasiun radio perhubungan lain yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Salah satu jasa radio PHB-AURI PC-2 Playen yang monumental adalah keberhasilannya menyiarkan berita tentang Serangan Umum 1 Maret 1949. Siaran berita itu dilaksanakan pada pukul 02.00 WIB tanggal 2 Maret 1949 ke seluruh jaringan radio AURI yang akhirnya sampai ke Perwakilan RI di New Delhi dan diterima PBB. (garuda)

 

Tidak ada komentar