Kisah 'Si Kampret', Pesawat Tempur Mengagumkan Milik TNI AU Yang Legendaris


[caption id="attachment_13084" align="aligncenter" width="659"] Pesawar OV-10 Bronco di Museum Pusat TNI Angkatan Udara, Dirgantara Mandala, Yogyakarta.[/caption]

Pesawat OV-10 Bronco memang sudah 10 tahun dipensiunkan dari TNI Angkatan Udara, namun kisah kehebatannya di sejumlah medan tempur masih dikenang dan jadi kisah yang legendaris. Sosok Si Kampret -julukan OV-10 Bronco- masih bisa dilihat di Museum Pusat TNI Angkatan Udara, Dirgantara Mandala, Yogyakarta.

OV-10 Bronco resmi menjadi salah satu koleksi Museum Dirgantara pada 25 Januari 2011, setelah dipensiunkan pada pertengahan 2007. Pesawat bernomor registrasi TT-1015 mewakili teman-temannya yang begitu perkasa semasa masih aktif berdinas di TNI AU.

OV-10 Bronco adalah pesawat militer ringan berbaling-baling bermesin turboprop dengan ganda sayap tinggi (high wing) buatan North American Rockwell. Pesawat bermesin turboprop ini dikembangkan pada 1960-an sebagai pesawat khusus untuk pertempuran anti-gerilya atau COunter-Insurgency (COIN).

TNI AU membeli 16 unit OV-10 Bronco pada 1976 sebagai pengganti pesawat tempur B-26 Invader yang sudah uzur dan P-51D Mustang yang digrounded. Salah satu alasan yang membuat TNI AU tertarik kepada OV-10 Bronco adalah kesuksesan saat dioperasikan dalam Perang Vietnam.

Pada 28 September 1976, tiga pesawat OV-10 Bronco dengan nomor registrasi S-101, S-102, dan S-103 tiba di Jakarta. Secara bergelombang pesawat dikirim ke Indonesia lewat penerbangan yang melelahkan dengan rute San Fransisco – Honolulu – Guam – Manado – Halim.

Ketiga pesawat itu langsung bergabung dengan tim demo udara untuk ikut fly-pass pada 5 Oktober 1976 di Parkir Timur Senayan, Jakarta.  Setelah tampil pertama kali di hadapan publik, pesawat OV-10 Bronco langsung diberangkatkan ke Bacau guna melaksanakan operasi militer ke Timor Timur.

Gelombang kedua datang tiga pesawat pada 13 November 1976, gelombang ketiga datang tiga pesawat pada 17 Desember 1976. Kemudian, tiga pesawat datang pada 16 Februari dan dua pesawat pada 16 Maret 1977. Terakhir dua pesawat tiba pada 17 Mei 1977, semuanya memakai registrasi S-115 dan S-116.  Belakangan registrasi pesawat diubah menjadi TT-1001 sampai  TT-1016, yaitu Tempur Taktis.

TNI AU memberi nama sandi Kampret untuk pesawat tempur taktis OV-10F Bronco melaksanakan Operasi Udara Tempur Taktis di Timor Timur. Nama Kampret ini diberikan bukan tanpa alasan, nama ini disematkan lantaran OV-10 Bronco ini memiliki kemampuan yang mengagumkan. Pesawat double tail ini dikenal sebagai light attacker paling handal dan termudah dalam pengoperasian.

Desain Si Kampret mungkin agak nyeleneh, karena bentuk sayap belakangnya yang tergabung menjadi satu. Namun, OV-10 Bronco yang memiliki rentang sayap 12,9 meter dan tinggi 4,62 meter mampu bermanuver baik, saat terbang rendah, tinggi, maupun akrobatik. Tenaga OV-10 Bronco pun terbilang kuat dengan kemampuan terbang tanpa henti selama 3 jam atau lebih, melaju pada kecepatan sekitar 560 km/jam, dan menenteng persenjataan seberat 3 ton.

OV-10 Bronco dilengkapi empat senapan mesin kaliber 7,62 mm; bom jenis ZAB, MK-28, OFAB, seberat 750 kg; dan bisa disiapkan dengan peluncur roket FFAR. Hebatnya, OV-10 Bronco mampu beroperasi dari landasan pendek dan landasan rumput serta dilengkapi kursi pelontar. Untuk melindung pilot dan navigator dari terjangan peluru lawan, kanopi depan dan lantai dasar OV-10-Bronco ditambah lapisan anti-peluru.

Kiprah terbesar Si Kampret saat memberikan bantuan tembakan udara (BTU) saat Operasi Seroja melawan pasukan Fretilin di Timor-Timur. Saat memberikan bantuan tembakan udara, Si Kampret menggunakan Merica (sandi untuk peluru senapan mesin kaliber 7,62mm), Lontong (sandi untuk roket FFAR), dan Nangka (sandi untuk dua bom di bawah sayap).

Kehadiran OV-10 Bronco dalam operasi di Timor Timur juga mampu menekan jumlah korban perang di pihak Indonesia. Di awal perang, Indonesia telah kehilangan 184 prajurit dalam waktu tiga bulan. Kesuksesan dalam Operasi Seroja membuat OV-10 Bronco tak pernah ketinggalan dalam berbagai operasi keamanan dalam negeri.

OV-10 Broco bergabung dalam Skadron-3, Skadron-1, dan Skadron-21 TNI-AU yang bermarkas di Pangkalan Utama Abdurachman Saleh, Malang. Prestasi yang diukir OV-10 Bronco sangat gemilang, yaitu satu-satunya pesawat militer TNI AU yang paling banyak berpindah domisili, paling banyak dalam penugasan, dan paling lama dioperasikan.

Bukan itu saja, OV-10 Bronco melahirkan penerbang-penerbang handal bagi TNI AU. Terdapat sekitar 100-an veteran pilot OV-10 Bronco TNI-AU dan 21 di antaranya adalah marsekal purnawirawan bintang 1 hingga bintang 4. Bahkan empat di antaranya pernah menjabat Kepala Staf TNI AU (KSAU), yaitu Rilo Pambudi, Hanafie Asnan, Herman Prayitno, dan Imam Sufaat.

Dengan usia terbang yang lebih dari 30 tahun, membuat penggunaan OV-10 Bronco lumayan berisiko. Terakhir satu pesawat OV-10 Bronco jatuh pada Juli 2007 di area persawahan di Kota Malang. TNI-AU pun menggantikan peran OV-10 Bronco dengan Embraer EMB 314 Super Tucano buatan Brasil. (sdn)

Tidak ada komentar