Masya Allah, Meski Buta Kakek 81 Tahun Ini Tetap Semangat Jualan


[caption id="attachment_13392" align="aligncenter" width="578"] Soebagiyo di lapak korannya di Jalan Ahmad Yani, Wlingi, Blitar.[/caption]

Keterbatasan usia dan fisik tidak menyurutkan niat untuk mencari nafkah. Meski buta, keriput, Soebagiyo tetap bekerja dengan berjualan koran.


Sesekali, tangannya bergerak-gerak menata koran. Di sebuah gerobak reyot di pinggir Jalan Ahmad Yani, Wlingi, Kabupaten Blitar, beberapa media cetak tertata rapi. Tepat pukul 07.00, pembeli silih berganti membeli koran. Senyum hangat mengembang dari kulit yang telah mengeriput. Kakek berusia 81 tahun itu tampak sehat untuk berjualan.




Saat diperhatikan, pandangan matanya tidak tertuju pada lawan pembicara. Setelah ditelusuri, kakek tersebut menderita kebutaan karena penyakit katarak yang menggerogoti matanya. Dengan terampil dan lihai, sang kakek melayani para penjual.

’’Hari ini penjualan lumayan meningkat. Ya, karena cuacanya cerah,” kata Soebagiyo saat ditemui di lapaknya kemarin.

Mulai 2007, dia berjualan koran. Beragam orang sudah dia temui. Menurut ceritanya, kebanyakan memang membeli koran karena simpati kepadanya. Namun, itu tidak mengecilkannya.

”Memang para pembeli tahu kalau saya tidak bisa melihat. Karena setiap kali membeli koran selalu saya tanya, ini uangnya berapa?” ungkapnya.

Soebagiyo mempunyai cara dalam meletakkan koran dan uang. Dibagi per nama media cetak sehingga lebih memudahkan walaupun tidak bisa melihatnya.

”Selain itu, uang saya sendirikan. Tidak dalam kotak, namun di bawah tikar tertata dengan rapi. Mulai uang Rp 1.000-an recehan dan Rp 500-an yang saya masukan dalam dompet,” jelasnya sambil tersenyum.

Menjual koran bukan perkara mudah. Sebab, pada masa digital saat ini, penjualan media cetak menurun. Dahulu dia bisa menjual lebih dari 30 eksemplar koran Jawa Pos per hari. Belum lagi sejumlah koran ketika tidak habis tidak bisa dikembalikan.

”Untuk itu, karena saya tidak berkeliling dan hanya menunggui pembeli dari rombong, harga koran saya banderol di bawah dari harga aslinya. Yang penting laku. Untung tak seberapa tidak masalah bagi saya,” terang kakek 80 tahun itu.

Tantangan yang dihadapinya adalah saat turun hujan. Ketika hujan mulai mengguyur, dia tidak bisa berjualan lagi. ”Ini rombong juga sudah rusak. Bocor dan reyot kalau tidak segera tutup. Koran juga kan basah semua. Mending ditutup, paling tidak jika koran tidak laku, bisa dijual ke tukang loak,” lanjutnya.

Di rumah, Soebagiyo tinggal bersama anak lelakinya. Anaknya, Amir, hingga sekarang belum menikah karena lebih memilih untuk ngopeni ayahnya. Ibunya sudah lama meninggalkan keluarga kecilnya.

Dia sangat bersyukur, sejak awal hingga saat ini tidak ada pembeli yang membohongi. Dia juga sudah mengenali pelanggan meski hanya mendengar suaranya. Bahkan, tak sedikit pembeli yang ogah menerima uang kembalian. Mereka salut dengan kegigihan Soebagiyo.

”Otomatis telinga saya ini sudah tahu itu suara dan namanya siapa. Meski usia lanjut, saya belum pikun. Hanya tidak bisa melihat dan dunia terasa gelap,” beber kakek yang disapa Bagiyo itu.

Penghasilannya tak menentu. Penghasilan per hari yang berkisar Rp 50 ribu menjadikannya hidup dalam kesederhanaan. ”Uang hanya cukup untuk makan. Kebetulan saya hidup dengan seorang anak laki-laki saya. Paling tidak untuk hari ini bisa makan dan nanti kalau sisa bisa untuk memperbaiki rombong,” kata kakek berperawakan tinggi kurus itu.

Amir menerangkan, sejak bapaknya terkena katarak pada 2008, dirinya berhenti bekerja dari perusahaan di Kalimantan untuk memilih tinggal dan merawat bapaknya. ”Selain merawat bapak, saya ikut membantu mengantar koran kepada para pelanggan setiap hari,” tambahnya.

Kurang lebih ada lima pelanggan koran harian dan beberapa tabloid mingguan. Dengan menggunakan sepeda onthel tua, dia setiap hari mengantarkan koran-koran.

”Untungnya, pelanggan bapak tidak jauh-jauh, hanya sekitar Wllingi. Sehingga tidak terlalu capek walaupun hanya menggunakan sepeda onthel,” katanya.

Sementara itu, beberapa pelanggan dan pembeli salut akan jerih payah dan daya ingat Soebagiyo. Meski buta, dia tetap ingat dan mengenal baik para pelanggan. [jp]


Tidak ada komentar