Serangan Tomahawk AS ke Suriah Sebabkan Harga Minyak Melonjak


Harga minyak mentah melonjak pada perdagangan Jumat (7/4/2017) setelah Amerika Serikat melepas 59 rudal tomahawk ke pangkalan udara pemerintah Suriah. Hal ini membuat harga si emas hitam meningkat 3% pada sepekan ini.

Melansir dari Reuters, Sabtu (8/4/2017), para analis mengkhawatirkan serangan AS bisa membuat konflik menjadi menyebar di wilayah yang kaya minyak.

Harga minyak mentah berjangka Brent International ditutup naik 35 sen menjadi USD55,24 per barel. Brent mencapai sesi tinggi sebesar USD56,08 per barel tidak lama setelah serangan rudal AS diumumkan. Untuk pekan ini, Brent telah naik 4,4%.

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) melonjak 54 sen menjadi USD52,24 per barel, dan sempat menyentuh angka USD52,94 per barel usai serangan rudal tomahawk.

“Pasar minyak kembali dalam mode bullish (meningkat) dari pekan sebelumnya. Berita (serangan rudal AS ke Suriah) membawa risiko geopolitik yang bisa mempengaruhi harga minyak,” kata Frank Klumpp, analis minyak di Landesbank Baden-Wuerttemberg yang berbasis di Stuttgart, Jerman.

Kendati Suriah bukan produsen minyak utama, namun serangan AS yang mendapat dukungan dari Arab Saudi, Turki, dan Israel, dikhawatirkan bisa meningkatkan eskalasi konflik di wilayah yang kaya minyak tersebut.

Carl Larry, konsultan minyak dan gas di Frost and Sullivan mengatakan, serangan AS ke Suriah bisa membuat kondisi menjadi jelek dan pasar bisa melompat dengan cepat.

Pasalnya, serangan AS ini bersamaan dengan mulai tingginya harga minyak dan meningkatnya permintaan Amerika. Sementara dua negara produsen minyak lainnya, Irak dan Venezuela akhirnya memilih untuk memangkas produksinya. Kedua negara sepakat memangkas produksi sebesar 1,5 juta barel per hari.

Adapun produsen minyak non-OPEC, Kanada juga mengurangi produksi menyusul kebakaran di salah satu kilang mereka. “Pengurangan produksi di Kanada bisa memiliki efek dalam mendukung (kenaikan) harga,” ujar Carsten Fritsch, analis komoditas di Commerzbank Jerman.

Selain minyak, emas, valuta asing dan pasar obligasi bereaksi keras alias bergejolak atas serangan rudal AS ke rezim Bashar al-Assad. (sdn)

Tidak ada komentar