Amerika Sabotase Program Nuklir Korea Utara?




Amerika Serikat (AS) melalui operasi rahasia diduga menyabotase program senjata nuklir Korea Utara (Korut)  yang telah berkecamuk selama tiga tahun. Laporan ini diterbitkan New York Times beberapa hari lalu.

Korut yang dipimpin diktator muda Kim Jong-un dianggap para ahli mengesankan, karena bisa mengembangkan program senjata nuklir meski kekurangan infrastruktur manufaktur rudal dari negara-negara kekuatan dunia seperti Rusia dan AS.

Laporan media Washington itu pada intinya mengaitkan tingkat kegagalan Korea Utara yang tinggi terkait uji tembak rudal yang jadi permulaan penting untuk program senjata nuklir.

Kegagalan terbaru dialami rezim Kim Jong-un pada Sabtu pekan lalu, di mana rudal balistik yang ditembakkan ke arah Laut Jepang meledak beberapa menit setelah diluncurkan.

Terkait dugaan AS menyabotase program senjata nuklir Pyongyang melalui operasi rahasia, Presiden Donald Trump tidak menyangkal, tapi juga tidak bersedia mengonfirmasi.

Dalam sebuah program di CBS, Trump berkali-kali menolak mengonfirmasi laporan soal dugaan sabotase itu. ”Saya lebih suka tidak membahasnya. Tapi mungkin rudal itu sangat tidak bagus,” kata Trump.

“Saya hanya tidak ingin membahasnya,” katanya lagi, yang dilansir Business Insider, Senin (1/5/2017).

Di masa lalu, para pemimpin AS secara terpaksa membantah serangan cyber terhadap negara lain. Tapi bagi para ahli yang tahu, kampanye melawan Korea Utara tidak mengherankan jika dugaan itu memang benar.

Dr. Ken Geers, pakar keamanan dunia maya untuk Comodo yang berpengalaman di Badan Keamanan Nasional (NSA) AS, mengatakan kepada Business Insider bahwa operasi cyber seperti untuk melawan Korea Utara sebenarnya wajar.

Menurutnya, fakta bahwa AS meretas program rudal negara lain dan mungkin mengejutkan beberapa orang. ”Di dalam ruang intelijen militer inilah yang mereka lakukan,” kata Geers.

”Jika Anda berpikir bahwa perang itu mungkin dengan keadaan tertentu, Anda akan berusaha mempersiapkan medan pertempuran untuk konflik. Di era internet, itu berarti hacking,” ujarnya.

Jaringan internal Korea Utara sangat terisolasi dan tidak terhubung ke internet yang lebih besar. Namun, itu menjadi tantangan bagi peretas di AS. ”Sama sekali tidak demikian, bahwa komputer perlu terhubung ke internet untuk diretas,” kata Geers, mengacu pada kecanggihan peretas tanpa jaringan internet.

Geers mengatakan, karena terbatasnya jumlah server dan jalur akses internet yang sangat terbatas di Korea Utara, maka jika terlibat perang cyber antara AS dan Korea Utara, ini akan menjadi kemenangan besar bagi Barat.

”Korea Utara bisa melakukan serangan (terhadap) Sony—industri film AS—atau menyerang Gedung Putih, tapi itu karena itulah sifat cyberspace,” kata Geers. ”Tapi jika perang datang, Anda akan melihat Komando Cyber melenyapkan sebagian besar negara-negara lain dengan cukup cepat.” [sdn]

Tidak ada komentar