Terbongkar! Inilah Fakta di balik 7 Mitos Kanker Serviks, Penyakit Yang Merenggut Jupe



Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada wanita dan menyerang leher rahim. Kanker ini disebabkan oleh HPV (Human Papillomavirus) dan biasanya ditularkan melalui hubungan seksual. Meski kasus kanker serviks sebenarnya tak sedikit, namun para wanita seringkali belum memahami perihal kanker serviks dengan baik.

Masih banyak wanita yang mempercayai beberapa mitos mengenai kanker serviks yang tersebar di masyarakat. Berikut adalah beberapa mitos terkait kanker serviks yang tak benar, sekaligus fakta-fakta di baliknya.

#1
Mitos: Kanker serviks tak bisa dicegah
Fakta: Ini adalah mitos yang salah. Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang sangat bisa dicegah. Pencegahan yang paling efektif adalah melakukan tes pap smear. Dengan melakukan pap smear secara teratur, wanita bisa mengetahui risiko yang mereka hadapi dan mengatasinya sejak dini. Selain itu, vaksin HPV juga bisa dilakukan untuk mencegah kanker serviks.

#2
Mitos: Kondom memberikan perlindungan 100 persen terhadap HPV
Fakta: Kondom tak memberikan jaminan 100 persen terhadap HPV yang menyebabkan kanker serviks. HPV bisa ditularkan melalui hubungan seks atau kontak kulit dengan orang yang memiliki HPV. Ketika memakai kondom, hanya penis saja yang terlindungi, bagian lainnya pada area genital tidak terlindungi dan bisa menyebarkan virus pada vagina. Penelitian di University of Washington menemukan bahwa kondom bisa mencegah penularan HPV hingga 70 persen.

#3
Mitos: Wanita yang terlalu muda/terlalu tua tak akan kena kanker serviks
Fakta: Meski kebanyakan wanita terkena kanker serviks di usia 48 tahun, namun wanita bisa terkena kanker tersebut sejak mereka berusia 20 tahun. Tak hanya itu, penelitian juga menunjukkan peningkatan kasus kanker serviks pada wanita di usia lanjut. Jadi, tak ada usia yang terlalu muda atau terlalu tua untuk terkena kanker serviks. Semua orang bisa terkena.

#4
Mitos: Kanker serviks tak menunjukkan tanda-tanda
Fakta: Meski terkadang kanker serviks tahap awal memang tak menunjukkan tanda, namun ada gejala yang bisa diwaspadai seperti pendarahan setelah melakukan hubungan seksual, pendarahan setelah masa menstruasi atau ketika menopause. Gejala lainnya adalah rasa sakit di bagian pelvis.

#5
Mitos: Tak bisa punya anak setelah terkena kanker serviks
Fakta: Jika Anda melakukan hysterectomy atau radiasi untuk mengatasi kanker serviks, Anda tak akan bisa mengandung. Namun ada prosedur operasi terbaru yang bisa menjaga kesuburan wanita meski terkena kanker serviks. Pengangkatan serviks yang tidak disertai dengan pengangkatan uterus juga bisa membuat wanita tetap memiliki anak meski terkena kanker serviks.

#6
Mitos: Jika terkena HPV, wanita pasti terkena kanker serviks
Fakta: Tak semua virus HPV menyebabkan kanker serviks. Terkadang virus HPV bisa sembuh dengan sendirinya dan menghilang tanpa menyebabkan kanker. Selain virus HPV, ada faktor lain yang bisa menyebabkan munculnya kanker serviks. Jadi, ketika seorang wanita memiliki HPV, belum tentu dia sudah kena kanker serviks.

#7
Mitos: Jika terdiagnosis kanker serviks, risiko mati pasti besar
Fakta: Tak semua wanita meninggal akibat kanker serviks, ketika mereka telah terjangkit. Jadi, jangan pesimis. Penelitian mengungkap bahwa tingkat keselamatan dari kanker serviks jika sudah terdiagnosis sejak awal adalah 92 persen. Semakin lama kanker serviks tersembunyi dan tak terdiagnosis, tentu tingkat keselamatan semakin menurun. untuk itu sangat penting melakukan pemeriksaan sejak dini secara teratur untuk mengetahui risiko dan mengetahui kanker serviks sejak awal.

Itulah beberapa mitos yang seringkali dipercaya dan membuat banyak wanita khawatir, atau sebaliknya justru meremehkan kanker serviks. Pastikan Anda selalu menjaga kesehatan diri dan tubuh, serta melakukan tes pap smear secara teratur untuk berjaga-jaga. [mc]

Tidak ada komentar