Aset Wakaf RI Bernilai Rp 370 T, Sri Mulyani : Harusnya Dimanfaatkan



Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, wakaf bisa menjadi salah satu instrumen keuangan syariah yang bisa mewujudkan pembangunan nasional yang mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan.

Hal tersebut diungkapkannya dalam acara 2nd Annual Islamic Finance Conference (AIFC) 2017 di Hotel Ambarukmo, Yogyakarta, Rabu (23/8/2017).

"Selain zakat sumber dana inovatif lain dalam pembiayaan lslamic yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai target SDG adalah wakaf," kata Sri Mulyani.

Wakaf adalah dedikasinya yang sukarela dan tidak dapat dibatalkan dari kekayaan seseorang atau sebagian darinya baik secara tunai maupun sejenis seperti rumah atau tanah, dan pencairannya hanya untuk proyek yang sesuai dengan syariah.

Sri Mulyani mengatakan, ulama islam mendefinisikan wakaf sebagai aset hadiah atau anugerah keagamaan untuk digunakan dan memberi manfaat bagi masyarakat sambil tetap menjaga nilai aset.

Berdasarkan data Dewan Wakaf Indonesia, sampai dengan Januari 2017, total aset wakaf dalam bentuk properti atau lahan telah mencapai 4,4 miliar meter persegi dengan perkiraan nilai ekonominya sekitar Rp 370 triliun.

Namun, kata Sri Mulyani, sebagian besar lahan wakaf dibatasi untuk digunakan di sekolah, masjid atau kuburan umum. Meskipun properti wakaf telah menguntungkan masyarakat, sebagaimana diamanatkan oleh wakaf, nilai ekonomi dari properti dapat dimaksimalkan.

Dalam mengoptimalkan wakaf sebagai instrumen pembangunan nasional, mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini menyebutkan, bahwa ada inisiatif di masyarakat untuk meningkatkan produktivitas aset dengan menyewakan kepada pihak yang berkepentingan atau digunakan untuk berbagai kegiatan ekonomi seperti pertanian dan peternakan.

"Harus mencari alternatif lain untuk memaksimalkan penggunaan wakaf di bawah perawatan mereka dengan membangun kawasan komersial. Pendapatan yang diterima dari sewa lahan kemudian akan dibagikan kepada mauquf 'alaih (penerima manfaat)," tambah dia.

Serupa dengan wakaf properti yang telah dikumpulkan oleh institusi wakaf di Indonesia yang masih jauh di bawah jumlah potensinya. Sebuah studi yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan, kata Sri Mulyani, menunjukkan bahwa wakaf tunai dapat mencapai triliunan rupiah setiap tahun jika setiap muslim indonesia menyumbangkan wakaf tunai secara teratur per bulan.

"Jika kita dapat memaksimalkan koleksi wakaf uang, saya yakin ini akan sangat membantu pemerintah mewujudkan proyek pembangunan berkelanjutan dan berkontribusi terhadap program pengurangan kemiskinan dan ketidaksetaraan," tegas dia.

Setelah memahami tujuan pembiayaan syariah dan perannya dalam mencapai target pembangunan berkelanjutan, menurut Sri Mulyani, sudah menjadi tugas pemerintah dan institusi keuangan syariah untuk memperbaiki kesadaran dan meningkatkan penerapan instruktur keuangan syariah dalam memerangi kemiskinan dan ketidaksetaraan.
Oleh karenanya, melalui acara AIFC 2017 diharapkan bisa memberikan hasil yang kongkret terkait dengan memecahkan masalah sosial dan ekonomi di Indonesia.

"Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mendorong semua ilmuwan di ruangan ini untuk memikirkan kembali dan merumuskan kembali tindakan atau program yang akan efektif untuk pembiayaan syariah, termasuk zakat dan wakaf untuk memecahkan masalah sosial dan ekonomi kita," tukas dia.(dc)

Tidak ada komentar