Muji, Tukang Becak Miskin Yang Berhasil Antar Empat Anaknya Lulus S-1 dan S-3



Tak semua orang mampu mendidik anaknya hingga jenjang sukses. Namun, Muji, seorang tukang becak ini cukup unik. Ia berhasil mendorong empat anaknya hingga bangku kuliah. Bahkan, satu di antaranya menetap di Negeri Sakura, Jepang.

Kulitnya yang sawo matang itu sudah mulai mengendur. Rambut hitamnya pun sudah memutih. Dan, kerutan di dahinya begitu nampak. Meski begitu, ia tak nampak lemah. Ia terlihat kuat dan tak sebanding dengan usia yang beranjak 67 tahun.

Ia adalah Muji. Bapak empat anak ini masih ceplas-ceplos dalam setiap kalimat yang dilontarkannya. Ia blak-blakan dengan apa pun yang diungkapkan. Namun, di balik itu, ia merupakan seorang ayah yang istimewa bagi anak-anaknya. Ia mampu menyekolahkan empat anaknya ke jenjang pendidikan strata satu (S-1) hingga strata tiga (S-3). ’’Memang tidak mudah. Saya harus kerja keras,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Pria yang tinggal di Ngaglik Gotong Rotong 3, Kota Mojokerto ini, menceritakan, untuk bisa menjadikan anaknya sarjana, butuh perjuangan yang berat. Betapa tidak, ia yang kesehariannya hanya seorang tukang becak, harus bejibaku memenuhi kebutuhan anaknya kuliah.

Muji bahkan mengaku, harus menyetel tubuhnya seakan memiliki kekuatan tujuh tubuh. ’’Jadi, tidak ada istirahatnya,’’ imbuh dia dengan mata berkaca-kaca. Pagi hari, ia harus mengantar anak tetangganya ke sekolah. Dengan mengayuh becak, ia harus cepat-cepat sampai ke sekolah hingga kembali ke rumah. Setelah itu, ia harus berangkat menjadi kuli bangunan hingga sore hari.

Sepulang dari nguli pun, ia tak bisa berdiam diri dan menikmati senja bersama istrinya, Wartini. Ia harus bekerja lagi dan menjadi tukang servis pompa air manual. ’’Jadi, harus benar-benar kuat,’’ ungkap Muji.

Cobaan kian berat saat ia dituduh oleh polisi telah menjadi penadah pompa manual. Ia pun dijebloskan ke penjara selama 23 hari. Namun, ia meyakini, Tuhan tak pernah tidur. Ia tetap optimistis, mampu memberikan nafkah dan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Tak sekadar dirinya yang bekerja keras. Ia juga mendidik anaknya untuk disiplin dan bekerja keras sejak kecil. Saat SMA pun, keempat anak Muji memiliki tanggung jawab merawat 50 ekor ayam petelur di belakang rumahnya. ’’Anak saya harus berusaha mencari sisa-sisa nasi di tukang jual soto untuk makan ayam,’’ papar dia. Dengan begitu, hasil telur pun bisa membantu roda perekonomian keluarga.

Pendidikan disiplin dalam berbagai hal itulah, yang mampu mengantarkan empat anaknya menuju jenjang kesuksesan. Anak pertamanya, Sudarsono, 41, mampu menempuh pendidikan hingga S-3 di Tri Sakti, Jakarta. Kini, ia bekerja di Kantor Telkom, Jakarta.

Sedangkan, anak keduanya, Wandiyuwono, 38, merupakan alumnus ITS jurusan Permesinan, dan kini menjadi pengusaha tutup botol air mineral. Anak ketiganya Romlah, 32, merupakan alumnus Unej dan kini menjadi pengusaha. Sementara, si ragil Zainul Abidin, 30, alumnus Unibraw dan kini masih menempuh pendidikan S-3 di Jepang.

Di usianya yang sudah senja, Muji mengaku tinggal memetik buahnya. Becak yang sudah rapuh dan mengantar anaknya ke pendidikan tinggi itu, sudah dijualnya. Kini biaya hidupnya sudah ditanggung anak-anaknya. Jangankan obat-obatan, seluruh kebutuhan dapur pun, tinggal memesan melalui online dan delivery order. ’’Biasanya, saya ditelepon butuh apa. Tiba-tiba ada petugas yang ngirim ke rumah,’’ cerita Muji.

Kini, Muji pun kerap bertandang ke Jepang dan Jakarta untuk sekadar menjenguk anak dan cucu-cucunya yang lucu. Meski jalan hidupnya telah berubah, namun Muji tak pernah pongah. Ia tetap berpakaian lusuh dan suka menikmati hari-harinya dengan minum secangkir kopi bersama teman-temannya. (jp)

Tidak ada komentar