Gubernur Lemhanas Ceritakan Detik-detik Saat Ayahnya, Mayjen Sutoyo Dijemput Pasukan G30S



Letnan Jenderal Purnawirawan Agus Widjojo masih berusia 18 tahun ketika peristiwa G30S/PKI itu terjadi. Masih terekam jelas di ingatannya bagaimana perjumpaan terakhir dengan sang ayah, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, pada 1 Oktober 1965 dini hari.

Saat itu, dini hari 1 Oktober, Agus masih tertidur pulas. Bersama dua orang adiknya dan seorang sepupunya, Agus tidur di sebuah kamar di kediaman ayahnya, Mayjen Sutoyo yang terletak di kawasan Menteng. Dalam lelap tidurnya, ternyata ada pasukan yang merangsek masuk ke dalam rumah Mayjen Sutoyo.

“Kebetulan garasi kami sedang direnovasi jadi memang terbuka sekali. Mereka masuk lewat situ, lalu langsung ke belakang. Di belakang ada kamar pembantu. Mereka gedor untuk mendapatkan kunci untuk bisa masuk ke dalam rumah,” ujar Agus dikutip dari Kumparan.com pada Sabtu (23/9/2017).

Gubernur Lemhanas ini mengakui tak ada penjagaan berarti di kediamannya, tak seperti kediaman Jenderal Ahmad Yani. Saat itu, praktis tidak ada pasukan yang berjaga apalagi senjata. Dengan mudah pasukan itu memenuhi tiap sudut rumah Agus.

Rasa takut menyergap, tapi Agus bersama kedua saudara dan sepupunya tak diizinkan untuk ke luar kamar. Mereka hanya mendengar suara ayah mereka yang keluar dari kamarnya untuk meladeni para penculiknya.”Hanya terdengar suara sepatu boots. Ayah saya tahu tidak mungkin ada perlawanan, kalau dipaksakan perlawanan, mungkin akan membawa akibat lebih parah,” kenangnya.

“Setelah tanya jawab sebentar, siapa ini, tujuannya apa, mereka lalu mengatakan ‘Ikut kami, dipanggil Presiden’ kepada ayah saya. Lalu ayah keluar. Itulah terakhir kali saya melihat dan mengetahui ayah saya. Setelah itu tak ditemukan kembali,” tutur Agus.

Agus tak mengetahui dengan pasti berapa jumlah pasukan yang menyergap rumahnya. Pertama, ruangan memang gelap dan kedua, ia tak diperbolehkan keluar. Namun, dari pengakuan para tetangga usai kejadian itu, ada dua truk yang menyergap rumahnya.

Di peristiwa dini hari itulah untuk terakhir kalinya Agus melihat sang ayah. Selang tiga hari, ia tak mendengar kabar apapun dari sang ayah. Kabar mengenai sang ayah baru didapat pada 4 Oktober 1965. Ia membaca dari media massa bahwa terjadi pembantaian terhadap sejumlah petinggi dan perwira AD. Mayjen Sutoyo adalah salah satunya.

Memaknai peristiwa itu, Wakil Ketua MPR dari Fraksi TNI/Polri periode 2001-2003 itu mengaku tak kaget. Saat itu, politik Tanah Air memang sudah panas. Perebutan kekuasaan antara TNI AD dan PKI sudah jelas tergambar.

“Dari surat kabar kita sudah bisa mengikuti dan dari dinamika politik yang ada kita juga sudah bisa menilai. Jadi ini pasti adalah peristiwa politik dan kalau sampai ada peristiwa seperti ini ya saya harus siap menghadapi kemungkinan terburuk,” tutupnya. (gr)

Tidak ada komentar