Inilah Lima Jejak Keterlibatan Amerika Dalam Peristiwa G.30.S/PKI



Lima puluh tahun belum cukup buat membuka tabir  peristiwa 30 September (G30S) 1965.  Terlalu banyak sisi kelam tragedi politik sekaligus kemanusiaan ini yang belum terungkap. Peristiwa  berdarah  ini mengorbankan tak  hanya  nyawa sederet jenderal, tapi  juga ratusan ribu  orang yang kemudian dibantai.  Mereka adalah orang-orang yang dicap sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia.

Satu hal yang kini semakin terang: besarnya peran Amerika Serikat dalam G30 S dan rentetan kejadian setelahnya. Peran itu semakin terkuak setelah Amerika membuka banyak data intelijen  pada sekitar tahun 1965 bagi  publik. Setidaknya ada 5  indikasi yang memperkuat dugaan keterlibatan Amerika:

1. Kebijakan Dewan Keamanan Amerika  1955

Rencana  menumbangkan Presiden RI sudah dimulai sejak Mei 1955, sebulan  setelah Sukarno menggalang gerakan non-blok lewat konferensi Asia Afrika di Bandung. Dewan Keamanan Amerika  (National Security Council-NCS)  menggariskan kebijakan itu. Pada dokumen NSC 5518, yang dibuka pada 1994,  dinyatakan jelas bahwa  operasi rahasia menjatuhkan Sukarno perlu dilakukan jika ia semakin memberi angin kepada partai sayap kiri.

2. Operasi penghancuran komunis

Sebuah komisi khusus di Badan Keamanan Nasional (National Security Agency—NSA)  menyetujui operasi untuk menghancurkan komunis di Indonesia.  Persetujuan ini terungkap dalam dokumen rahasia Central Intelligency  Agency (CIA) bertanggal 23 Februari 1965 yang dipublikasikan  pada 2001.  Komisi ini setuju CIA berkolaborasi secara diam-diam dengan  kelompok antikomunis di  Indonesia.

3. Perhatian amat intensif terhadap politik Indonesia

Intensitas itu terungkap dari ratusan dokumen CIA yang  telah dibeberkan.  Pada  3  Oktober 1965, misalnya, terungkap laporan dari  Direktur Wilayah Timur Jauh, FJ Blouin,  kepada Pejabat International Security Affair, McNaughton. Blouin memaparkan secara rinci situasi dan kontak-kontak dengan pejabat di Indonesia.  Ia kemudian memprediksi yang akan terjadi.  Menurut dia, jika  tentara merayakan Hari TNI pada 5 Oktober dengan prosesi besar-besaran karena kematian para jenderalnya,  hal ini menjadi mementum  tentara mengambil  posisi menentukan.

 4. Pengakuan bekas diplomat Amerika

Seorang bekas diplomat  Amerika, Robert J. Martens, sempat mengeluarkan keterangan penting.  Ia membongkar aktivitas CIA yang mendata sekitar   5000  tokoh PKI, mulai pimpinan pusat sampai ke daerah.  Daftar ini yang kemudian diserahkan ke militer Indonesia. Pengakuan  Martens ditulis  oleh  wartawan Kathy Kadane dipublikasikan lewat States News Service pada 17 Mei 1990.

Martens belakangan membantah soal itu.  Ia menyebutkan  daftar yang ia buat hanya sejumlah tokoh PKI berdasarkan liputan media komunis di Indonesia.  Duta Besar  AS untuk RI pada masa itu, Marshall Green, juga menganggap laporan itu sebagai “sampah”. Hanya, dalam laporan CIA  berjudul  "Coup and Counter Reaction: October 1965-March 1966", jelas terungkap Kedutaan AS di Jakarta  terus melaporkan perkembangan nasib tokoh-tokoh PKI ke Washington, misalnya, ditahan atau meninggal.

5. Bantuan Amerika ke pejabat TNI

Terungkap adanya permintaan bantuan obat-obatan  dan peralatan komunikasi dari pejabat militer  pro Suharto di Indonesia kepada Amerika. Telegram 1 November 1965  dari  Marshal Green di Jakarta kepada Menteri Luar Negeri Dean Rusk di Washington menggambarkan  itu. 

Masih banyak  catatan lain mengenai indikasi keterlibatan Amerika dalam peristiwa 30 September 1965 dan  rentetan gejolak politik dan kejadian berdarah setelah itu.  Majalah Tempo edisi  5-12 Oktober  2015 mengungkap sepak terjang intel Amerika di Indonesia saat itu secara mendalam dan lengkap.(tc)

Tidak ada komentar