Ayah Gendong 2 Bocah Tanpa Alas Kaki Jadi Viral, Netizen Ungkap Kejanggalan ini



Jujur banyak netizen yang terang-terangan dibuat iba oleh lelaki ini.

Tak hanya tampilannya mencolok sebab enggan menggunakan alas kaki, 2 bayi yang digendongnya juga makin menambah kesan dramatis.

Coba saja baca ceritanya sekilas berikut ini.

Sudah beberapa kali lelaki malang ini mendatangi sejumlah orang untuk minta petunjuk jalan pulang.

Bukannya mendapat tanggapan semestinya, sosok yang telah memiliki 2 anak ini justru diusir karena dikira pengemis.

Sehari-hari, hidup dilaluinya dengan mencari rongsokkan.

Bila malam tiba, tempat tidurnya bisa di mana saja.

Asalkan bisa tidur, itu sudah cukup.

Sekitar jam 5 sore, seorang netizen merekam sosok lelaki tersebut berjalan di pinggir jalan.

Tak ada trotoar, hanya ada got kecil dan langsung bahu jalan.

Dia berjalan tanpa mengenakan alas kaki.

Lebih miris lagi, tas hitam dicantol di lengan kiri sambil menggendong kedua anak yang masih kecil.

Seorang lelaki, jalan tanpa alas kaki di pinggir jalan, menggembol tas beserta 2 anak yang digendong depan-belakang, maka munculah pertanyaan berikut ini.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Berdasarkan keterangan dalam postingan akun Facebook bernama Yuni Rusmini, diduga ini yang sebenarnya terjadi.

Kejadian ini terjadi di sekitar Kemanggisan, Jakarta Barat, kurang lebih jam 5 sore.

Sosok yang jadi sorotan tersebut bernama Andi Sudirman.

Dirinya menggendong kedua anaknya tanpa mengenakan alas kaki.

Saat ditanya mau ke mana, dia menjawab ingin pulang ke kampung halaman di Bone.

Bone sendiri adalah salah satu daerah otonom di Provinsi Sulawesi Selatan.

Saat sosok malang ini berjalan kaki, jalanan sedang ramai dengan sejumlah pengendara mobil maupun motor.

Jalan yang dilalui lelaki tersebut ketika direkam adalah jalan satu arah yang agak macet karena jam pulang kerja.

Lalu muncul seseorang yang iba dengan Andi.

Sejumlah pemberian uang berkisar 20, 50, bahkan 100 ribu malah ditolak.

Dirinya menolak sembari mengucapkan bukan seorang pengemis.

Ditegaskan bahwa Andi hanya ingin pulang ke kampungnya.

Sebelumnya, ternyata dia sudah pernah meminta tolong dengan mendatangi sejumlah orang.

Tujuannya untuk meminta petunjung bagaimana caranya pulang ke Bone.

Jangankan direspon, dia malah diusir sebab dikira pengemis.

Cita-cita yang selalu didambakannya, pulang ke kampung halaman.

Hanya itu pintanya.

Postingan ini sendiri baru diunggah pada hari jumat (24/11/2017) jam 7.29 malam.

Selang 3 jam, postingan ini sudah dibagikan sebanyak 1.646 kali.

Belum dapat diketahui lebih lanjut mengapa lelaki tersebut bisa ke Jakarta.

Adakah yang bersuka cita membantu saudara sebangsa untuk pulang ke kampung halaman?

Sekelumit Cerita di Balik Lelaki yang Bikin Iba

Sungguh sangat luar biasa, tentu banyak orang yang akan iba melihat sosok ini.

Rupanya, lagi-lagi netizen kembali diingatkan, janga mudah percaya dari tampilan luar saja.

Berdasarkan cuitan Dinas Sosias (Dinsos) DKI Jakarta, tersibak sekelumit cerita mengejutkan tentang sosok ini.

Dalam akun Twitter resmi Dinsos DKI Jakarta, diterangkan bahwa ternyata lelaki tersebut sebenarnya telah dipulangkan pada tahun 2016 ke Bone.

Namun, ternyata beberapa hari belakangan batang hidung orang yang sama kembali terlihat di Jakarta.

Dinsos DKI Jakarta menghimbau masyarakat agar melaporkan ke Satuan Tugas Petugas Pelayanan, Pelayanan, Pengawasan, dan Pengendalian Sosial (@satgasp3s),Satgas P3S Jakarta Barat (@p3sjakbar), dan Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya II (@psbibangundaya2) bila melihat kembali sosok ini.

Ada 2 anak di tangannya.

Pihak Dinsos DKI Jakarta mengaku kasihan dengan kondisi kedua anak tersebut.

"Apa pun alasannya, anak harus diselamatkan," tulis Dinsos DKI Jakarta.

Usai ramai jadi perbincangan beberapa hari belakangan, seorang netizen menulis hal yang mencengangkan.

"Ini bapak sempat viral di bulan Februari 2016 dengan modus biar orang iba," tulis akun Facebook bernama Tata Zia.

"Gue sempet ketemu juga awal November ada di depan Telkom, Jalan Daan Mogot."

"Gue ikutin sampai ke lampu merah Cengkareng."

"Gue tanya dari mana, katanya jalan kaki dari Tanjung Priok."

"Terus mau gue ongkosin buat pulang, dia bilang 1 bangku 350 ribu."

"Kebetulan gue ketemu bapak-bapak yang mau bantu."

"Akhirnya gue putusin buat patungan sama bapak-bapak itu."

"Terus pas gue mau bilang ke Pos Polisi dulu, dia keukeh gak mau."

"Bilangnya trauma karena udah pernah diturunin sama Polisi Tambora."

"Katanya diturunin di tengah jalan."

"Maksud gue ajak dia ke Pos Polisi biar Pak Polisi yang mantau dia sampe sana, terus biar pasti aja sih sampe."

"Gue bilang, 'Gue jamin malam ini lo balik ke Bone sama anak-anak.'"

Ternyata, "Tetap gak mau."

"Minta uang tiketnya aja katanya."

"Oh iya, gue masih ada kok fotonya."

Tata Zia menuliskan sosok tersebut malah masih punya keluarga.

Dijelaskan, bukan Andi Sudirman, ternyata nama sebenarnya adalah Dirman.

"Sosok ini masih ada keluarganya juga kok."

Lalu netizen lain juga mengungkapkan hal serupa.

Akun Facebook bernama Stevanus Satrio menuliskan hal seperti ini.

"Saya pernah mencoba menolong bapak ini beberapa bulan lalu di Daerah Cakung."

Sama kondisinya dengan menggendong 2 anak dan tanpa mengenakan alas kaki.

"Dia membawa identitas fotokopian KTP dan nama istrinya."

"Malam itu kami tampung untuk istirahat di rumah kami supaya besok pagi ke Tanjung Priok."

"Tapi bapak itu tidak mau."

"Lalu kami beri sepatu dan sepatu kecil untuk anak-anaknya."

"Dan, kami bantu untuk memulangkan ke Bone, memberi ongkos tiket serta mengantarkan ke Tanjung Priok."

"Di sana kami titipkan ke satpam loket penumpang untuk membantu beli tiket di pagi hari."

"Tapi besoknya, kata satpam bapak itu pergi pagi-pagi dengan alasan mau ke pasar membeli makanan."

Ternyata sosok tersebut malah, "Tidak balik-balik lagi ke arera Tanjung Priok."

"Maaf, maksud saya untuk berhati-hati kalau membatu orang ini."

"Supaya tak terjebak," rasa iba justru disalahartikan.

"Saran saya, kasihan dengan anak-anaknya yang kembar."

"Lebih baik dibujuk dibawa ke panti sosial saja atau ke polisi maupun layanan masyarakat supaya bisa ditata lebih baik."


"Mungkin, maaf, ini adalah modus atau ada kebiasan jelek psikologis dari si bapak ini yang melibatkan anak-anak."

"Kasihan, ini pengalaman saya dengan bapak tersebut."

Peringatan penting bagi masyarakat, segera melapor pihak berwenang bila terjadi berbagai hal di lingkungan sekitar.(grid)

Tidak ada komentar