Indonesia Sepakati Kerjasama Bidang Energi dengan Cina



Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyepakati kerja sama dengan Republik Rakyat Cina (RRC) tentang pengembangan bidang energi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar di Jakarta, Senin, melakukan pertemuan bilateral dengan Administrator National Energy Administration (NEA) Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Nur Bekri pada “The 5th Indonesia-China Energy Forum (ICEF)”.

Pada pertemuan tersebut ditandatangani juga Memorandum of Understanding (MoU) atau kerja sama bidang energi dan sumber daya mineral. MoU ini akan menjadi payung kerja sama kedua negara.

Kedua pihak melaksanakan pertemuan bilateral dalam working group. Terdapat dua working group, yaitu minyak, gas bumi dan batu bara serta energi baru, terbarukan dan ketenagalistrikan. Pertemuan bilateral ini diharapkan dapat menjadi forum para pihak untuk melanjutkan kerja sama ke tahap kegiatan yang konkret.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2002, ICEF selalu menjadi forum bilateral yang bermanfaat bagi sektor energi kedua negara. Pada penyelenggaraan sebelumnya, ICEF menjadi platform untuk memulai kerja sama yang konkret antar BUMN dan perusahaan kedua negara. Diharapkan juga dapat menjadi pendorong bagi kedua pihak untuk melanjutkan dan meningkatkan kerja sama energi di masa depan.

Beberapa kerja sama yang sudah dilakukan Indonesia dengan RRC adalah pertama investasi perusahaan minyak dan gas bumi RRC di Indonesia.

Beberapa perusahaan RRC berinvestasi dan beroperasi di Indonesia di bidang minyak dan gas bumi dengan wilayah kerja Operasional Blok dan Non-Operasional Blok, yaitu: SINOPEC (KKKS Non-Operasional Blok) Petrochina (KKKS Operasional Blok) dan CNOOC (KKKS Operasional Blok dan Non-Operasional Blok).

Kedua, investasi perusahaan RRT di bidang ketenagalistrikan.

Perusahaan-perusahaan RRC ikut berpartisipasi dalam investasi bidang ketenagalistrikan di Indonesia, baik itu dalam proyek 35 GW maupun proyek ketenagalistrikan di luar proyek 35 GW.

RRC turut berinvestasi dalam proyek bidang ketenagalistrikan 35 GW, dalam dua skema yaitu: EPC (Enginering, Procurement, and Construction) sebesar 3 persen dan IPP (Independent Power Producer) 36 persen dari total keseluruhan.

Selain itu, RRT juga ikut berpartisipasi aktif dalam beberapa proyek di luar Proyek 35 GW, seperti: PLTU Banten I, PLTU Banten II, PLTU Banten III, PLTU I Jawa Barat, PLTU II Jawa Barat, PLTU I Jawa Tengah, dan beberapa PLTU besar lainnya di wilayah Indonesia.

Pada investasi di bidang hilir minerba, Alumunium Corporation of China Ltd. (Chinalco) bersama dengan PT Aneka Tambang Tbk dan PT Inalum membangun Smelter Grade Alumina di Kabupaten Mempawah (SGA Mempawah), Kalimantan Barat. Smelter yang direncanakan memiliki kapasitas satu juta ton per tahun ini diperkirakan menelan investasi sebesar 1,5-1,8 miliar dolar AS.

Selanjutnya, Antam dan Inalum akan membentuk perusahaan patungan atau JV dengan Chinalco. JV ini akan mengoperasikan smelter, dengan pihak Indonesia memegang saham mayoritas, minimal 51 persen. PT Antam memiliki cadangan terbukti bauksit (bahan baku alumunium) sebanyak 100 juta ton ditambah potensi yang ada di area konsensi sekitar 200 juta ton. Cadangan bauksit Indonesia adalah terbesar ke-8 dunia sedangkan nilai ekspornya peringkat kedua terbesar. [rj]

Tidak ada komentar