Kartu “Truf” itu bernama ALEXIS, Siap Dipakai Kapan Saja



Kekalahan ahok pada pilkada Jakarta kemarin rupanya membawa dampak kerusakan yang dahsyat. Ini setidaknya dapat dilihat dari 3 hal berikut: gangguan kesehatan mental dan kejiwaan para pendukungnya; hancurnya kalkulasi politik para elit; hingga berantakannya investasi yang sudah dikeluarkan oleh para pemodal aseng.

Sebab… tidak pernah ada yang menyangka bahwa ahok yang di back-up penguasa dengan semua hulubalangnya, partai-partai besar (dan gurem), lembaga-lembaga survey bayaran, media corong penguasa, artis-artis papan atas (dan pemakai narkoba), hingga dana yang unlimited; bisa kalah dengan selisih prosentase hingga dua digit (Hasil Pleno KPU DKI: Anies-Sandi 57,96%, Ahok-Djarot 42,04%). Perih. Tak sekedar kalah, ahok pun akhirnya digelandang masuk bui, 2 tahun penjara krn kasus penistaan agama yang menjeratnya.

Kekalahan menyakitkan ini menimbulkan dendam mendalam yang tak berkesudahan hingga hari ini, bahkan mungkin hingga hari-hari ke depan. Anies-Sandi tidak akan dibiarkan begitu saja untuk mudah merealisasikan janji-janji politiknya. Apalagi salah satu janji kampanye pasangan Anies-Sandi, yang membuatnya dipilih oleh rakyat Jakarta, adalah menolak melanjutkan proyek reklamasi. Bisa dibayangkan berapa besarnya kerugian yang akan ditanggung oleh para cukong yang sudah terlanjur percaya dengan janji-janji elit politik yang merasa yakin dengan kemenangan ahok. Apalagi iklan tentang pulau-pulau harapan di teluk Jakarta sudah diiklankan oleh para taipan di negeri leluhur mereka. Amsyong.

Pesan gangguan terhadap pasangan Anies-Sandi sudah mulai terasa sejak jelang pelantikan. Dimulai dari kabar bahwa Sandiaga Uno akan segera diperiksa polisi sesaat setelah pelantikan terkait tuduhan tindak pidana penggelapan tanah; keengganan Djarot untuk melakukan serah-terima jabatan dengan lebih memilih ngacir, ehhh… plesir bersama keluarganya ke Labuan Bajo-NTT; dan penolakan ketua DPRD DKI Jakarta, yang merupakan kader partai banteng, untuk menggelar sidang istimewa penyambutan dan pemaparan visi-misi Gubernur Jakarta yang baru. Sekali lagi… ini semua adalah signal dan pesan kepada Anies-Sandi bahwa mereka tidak akan mudah bekerja di Jakarta.

Merasa bahwa program-programnya akan mendapat hadangan dari lawan-lawan politiknya, Anies tentu tidak tinggal diam. Hotel ALEXIS adalah sasaran pertamanya. Ini bukan sekedar persoalan tidak diperpanjangnya izin Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) hotel dan griya pijat, yang oleh si ahok disebut lantai 7 nya sebagai surga dunia tsb, tapi ini pesan balik kepada lawan-lawan politik Anies untuk tidak macam-macam.

Pada acara E-Talk Show di TV One kemarin malam (Jum’at, 03/11/2017), Anies kembali menegaskan bahwa pihaknya mempunyai dasar yang kuat untuk tidak memperpanjang izin ALEXIS berdasarkan investigasi yang dilakukan tim yang ia miliki sejak Januari 2017 lalu. Lengkap. Mulai dari daftar nama pengunjung, asal daerah pengunjung, hingga daftar nomor taksi yang sering mengantar tamu ke sana. Ngeriii…coy.

Inilah barangkali yang membuat mantan Jubir Tim Kampanye Ahok-Djarot, yang sesumbar untuk memotong telinga jika ahok kalah, Ruhut Sitompul mengatakan melalui akun twitternya: “mengumbar nama2 pelanggan ALEXIS melanggar hukum, tidak etis & itu ranah privat. Tuhan tdk pernah tidur. Jangan mempermalukan siapapun dia.”

Tadinya kita berharap pihak ALEXIS benar-benar punya nyali untuk mengajukan gugutan terhadap Pemprov DKI Jakarta. Sehingga dengan demikian ada kesempatan bagi Pemprov DKI Jakarta untuk memperlihatkan bukti-bukti yang mereka miliki secara terbuka di pengadilan. Apalagi sebelumnya beredar ancaman (yang tersebar di medsos) bahwa jika ALEXIS ditutup, maka pihak manajemen tidak akan segan-segan untuk membuka rekaman CCTV hotel tsb dan membukanya ke publik.

Tapi nampaknya manajemen ALEXIS lebih memilih jalan non-konfrontasi. Mereka mau menerima keputusan Pemprov DKI Jakarta yg menyetop operasional hotel dan griya pijat ALEXIS. Apakah ini demi menjaga nama baik(?) orang-orang “besar” yang nama-namanya sudah ditangan Anies? Bisa jadi. Yang pasti… pasca kasus ALEXIS ini, Anies-Sandi akan lebih mudah menjalankan program-programnya dalam melayani warga Jakarta. Salah satunya, rumah DP 0%.

(Jangn lupa ya bang Anies-Sandi… stadion untuk PERSIJA. Biar gak terusir terus.)

Rupanya ada hikmahnya juga Anies berlatih gulat saat menjadi mahasiswa di Amerika dulu. Ia jadi tau bagaimana cara menekuk dan melumpuhkan lawan hingga tidak mampu berkutik lagi. Cukup memegang kartu Truf…. “ALEXIS”, yang nama-nama membernya kini sudah di tangan. Siap “dibuka” kapan saja… kalau ada yang mengganggu program kerja Anies-Sandi… atau di saat-saat “diperlukan”  😂

Ngopi pagi.
Sruput deh….

5-11-2017

(ERWIN)

[portalislam]

Tidak ada komentar