Pakar Sejarah : Apa Hak Sesama Sipil Meminta Tanda Tangan Pernyataan Tidak Anti Pancasila?



Penolakan dan akhirnya berujung pada batalnya pengajian yang akan diisi Ustadz Felix Siauw di Bangil pada Sabtu (4/11/2017) pekan lalu karena ada ormas yang memaksakan Ustadz Felix Siauw menandatangi pernyataan “ber-Pancasila”. Karena ustadz Felix Siauw tidak mau, maka pengajian harus bubar.

Kelakuan ormas ini sudah melampau batas dan wewenangnya. Hal ini ditegaskan DR. Moeflich Hasbullah, pakar Sejarah Islam dan dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ini yang disebut dengan AROGANSI SIPIL.

AROGANSI SESAMA SIPIL

“Meminta tanda tangan untuk tidak anti Pancasila, atau agar setuju Pancasila, atau menguji-uji kepancasilaan seseorang oleh sesama warga atau dari warga sipil ke warga sipil lainnya, apalagi dengan cara interogasi, adalah sebuah kesombongan atau arogansi sesama sipil yang tak berampun. Apa haknya? Selain sebuah arogansi tidak berdasar juga tidak ada haknya.

Tidak ada seorang pun di bumi Indonesia ini yang berhak mengakui diri dan kelompoknya paling Pancasilais.

Itu prinsip dasar yang harus disadari bersama oleh sesama warga sipil. Kalau oleh aparat kepolisian atau pemerintah itu lain soal, walaupun tidak ada jaminan juga aparat kepolisian dan pemerintah lebih pancasilais dari warga dan masyarakatnya.

Jadi sudah tepat tindakan Felix yang menolak interogasi ttd oleh Banser sebagai sesama sipil itu. Jika ada yang begitu lagi, maka tolaklah untuk menghapuskan kesombongan bernegara di muka bumi ini.”(rj)

Tidak ada komentar