Setya Novanto Bikin Gaduh, Jokowi Dan Luhut Jangan Cuci Tangan



Pihak Istana Negara adalah kekuatan yang melakukan intervensi dan memuluskan jalan Setya Novanto untuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar pada 2016.

Kemunculan Novanto tidak lepas dari intervensi Istana melalui penciptaan konflik di internal partai berlambang beringin itu. Demikian dikatakan Ketua Progres 98, Faizal Assegaf.

Ia menjelaskan, politikus senior Partai Golkar, Luhut Binsar Pandjaitan (sekarang menjabat Menko Maritim), “bermain” di Munaslub Golkar 2016 untuk memuluskan jalan bagi Setnov. Diduga Luhut bertindak atas arahan Presiden Joko Widodo. Hasilnya, konflik internal Golkar yang berlarut-larut seketika berakhir.

“Jokowi dan Luhut berhasil membuat Setnov bagai kambing yang terikat di pagar Istana, manut dan tidak berdaya. Hasilnya Golkar dibuat berkhianat pada Prabowo Subianto, keluar dari Koalisi Merah Putih. Tak hanya itu, Golkar dipaksa untuk mendukung penista Al Quran, Ahok, di Pilgub DKI Jakarta,” urai Faizal, dalam keterangan tertulis.

Hasil dari itu semua adalah membuat Golkar tersandera dan kian terpuruk, diobrak-abrik oleh pihak Istana dan KPK melalui kasus korupsi Setya Novanto. Menurut Faizal, amat lucu bila partai yang punya segudang pengalaman berpolitik justru merelakan organisasinya dihancurkan tanpa ada perlawanan.

Melihat kekacauan akibat ulah Setya Novanto yang terjadi akhir-akhir ini, dia mendesak Presiden Joko Widodo dan Luhut Pandjaitan bertanggung jawab karena mereka terlibat memunculkan Setya Novanto menjadi Ketua Umum Golkar.

“Jokowi dan Luhut tidak boleh cuci tangan, sebab sejak awal mereka tahu bahwa Setnov terlibat serangkaian kasus korupsi. Dan ihwal itulah yang digunakan sebagai pintu masuk mengobok-obok Golkar,” katanya.

Faizal yakin, “kezaliman” tersebut tidak hanya dilakukan penguasa terhadap Partai Golkar, tetapi juga Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menuai nasib serupa. Ia menyarankan dua Parpol itu berani mengambil sikap tegas untuk lepas dari koalisi pendukung pemerintah.

“Termasuk posisi PDIP yang makin cemas dengan pengkhianatan Jokowi dan Luhut kepada Setnov. Politik licik itu bisa jadi menyapa Megawati yang diduga terlibat dalam skandal BLBI,” sindir Faizal. [rj]

Tidak ada komentar