F-22 Datang, Korea Utara: Trump Setan Nuklir Yang Mengemis Perang



Ketegangan di Semenanjung Korea mencapai titik baru dengan kedatangan enam jet tempur siluman F-22 Raptor Amerika ke Korea Selatan pada Sabtu 2 Desember 2017 untuk latihan militer bersama.
Penyebaran jet tempur paling canggih ke wilayah tersebut terjadi beberapa hari setelah Pyongyang meluncurkan rudal balistik antarbenua Hwasong-15 yang dilaporkan mampu melakukan perjalanan sekitar 8.000 mil dan mencapai Washington DC. Pakar militer mengatakan kemungkinan perang tumbuh pada tingkat eksponensial, dengan otoritas Amerika dan Korea Utara melemparkan bensin ke dalam api.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis bahwa Presiden Amerika Donald Trump dan pemerintahannya “mengemis untuk perang nuklir” dengan “melakukan pertaruhan nuklir yang sangat berbahaya terhadap semenanjung Korea.”
Juru bicara Korea Utara menggambarkan Trump sebagai “setan nuklir” dan “pengganggu perdamaian global”.
Pada Minggu 3 Desember 2017, surat kabar Korea Utara Rodong Sinmun menulis latihan Vigilant Ace 18  yang dijadwalkan pada hari Senin sampai Jumat merupakan  “provokasi berbahaya” yang mendorong wilayah ini “ke  jurang perang nuklir. ”
Penasehat keamanan nasional Gedung Putih HR McMaster pada hari Sabtu  di Forum Pertahanan Nasional Reagan di Simi Valley, California, bahwa potensi perang dengan negara tertutup meningkat dari hari ke hari.

“Ada banyak cara untuk mengatasi masalah ini dengan mengurangi konflik bersenjata, tetapi ini adalah sebuah perlombaan karena [Kim Jong Un] semakin dekat, dan tidak banyak waktu yang tersisa,” McMaster menyindir.
Amerika mengirim puluhan jet tempur berteknologi tinggi, pembom dan pesawat pendukung ke latihan tempur udara Amerika -Korea Selatan. Wargames, yang bertujuan untuk meningkatkan “efektivitas tempur” aliansi, akan diadakan pada 4-8 Desember.
Pesawat tempur siluman F-22 dan F-35 Amerika diyakini dapat menjadi ancaman terbesar bagi Pyongyang. Meski Korea Utara mempertahankan persenjataan anti-udara yang cukup besar dan mumpuni, sistem radar mereka tidak dapat mendeteksi jet tempur siluman sebelum melakukan serangan terhadap sistem pertahanan mereka.
Jika terjadi perang, F-22 dan F-35 kemungkinan akan diminta untuk memimpin kampanye udara  melawan Pyongyang.
Sementara itu, Rodong Sinmun bersumpah bahwa para jet tempur siluman tersebut tidak akan lolos dari kehancuran dan menambahkan bahwa provokasi terhadap DPRK bisa “mengarah pada perang nuklir kapanpun.”[jt]


Tidak ada komentar